Kamis, 22 Desember 2011

makalah fisika dasar I

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dari ilmu fisika, dimulai dari pengukuran hingga gaya-gaya yang kita lakukan. Untuk lebih memahami ilmu-ilmu fisika,sehingga dilakukanlah praktikum. Dengan acuan kepada materi-materi yang telah dipelajari.
             Pratikum merupakan suatu praktek secara langsung berhubungan dengan sesuatu atau objek yang sedang dibahas .Pratikum adalah suatu pratek pengembangan dari teori yang dipelajari,sehingga mahasiswa /itidak hanya mengetahui teori tetapi mengetahui wujud yang dipelajari.
                 Contoh saja pengukuran ,jika hanya teori maka akan sulit dipahami serta diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.Dalam pratikum Fisika Dasar 1 menyajikan pengukuran yang berkomposisi jangka sorong ,sperometer.Dan juga ditambah percobaan-percobaan lain meliputi kesetimbangan ,bandul sederhana dan gesekan .Kemudian dalam pratikum membutuhkan teori penunjang yang cukup untuk mendukung pelaksanaan pratikum.
                  Dalam kesempatan ini ,penulis menyajikan kumpulan teori penunjang dalam sebua makalah yang tersusun secara sistematis dan terperinci serta hadir dengan bahasa umum yang mudah dipahami.Makalah ini bersumber dari buku –buku yang berhuungan dengan teori pratikumserta bersumber dari internet yang telah disaring.
              Segenap mahasiswa/I khususnya jurusan pendidikan matematika dan ilmu pengetahuan alam. Agar dapat memanfaatkn makalah inisebagai tambahan teori penunjang dalam pratikum.sehingga dapat melakukan pratikum dengan hasil yang memuaskan.

                                                             
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka perumusan masalah dalam makalah ini “ Materi-Materi dalam Praktikum Fisika Dasar I”.


1.3 Tujuan

Sesuai dengan perumusan masalah yang telah dikemukakan maka pemelitian ini bertujuan: “untuk mengetahui materi-materi yang terdapat dalam praktikum fisika dasar I.


1.4 Manfaat
Dengan tercapainya tujuan penelitian ini, diharapkan hasilnya akan dapat menjadi ilmu tentang :
1.     Cara menggunakan alat-alat ukur.
2.     Mengetahui tingkat ketelitian suatu alat ukur
3.     Menentukan gaya-gaya yang bekerja pada titik kesetimbangan
4.     Menentukan nilai gravitasi bumi
5.     Menentukan koefisien gesekan statis dan kinetis


















BAB II
PEMBAHASAN


2.1 JANGKA SORONG
2.1.1 Deskripsi
Mistar ingsut yang merupakan nama lain dari jangka sorong, mistar geser jangka geser atau schuifmoat. Prinsipnya sama seperti mistar ukur yaitu adanya skala linear pada batangnya, sedangkan perbedaanya terletak pada cara pengukuran objek ukur. Pada jangka sorong dibuat rahang ukur gerak yang berfungsi sebagai sensorik untuk untuk menjepit benda ukur sewaktu melakukan pengukuran. Permukaan kedua rahang ini dibuat sejajar dan relatif kuat untuk menghindari kesalahan ukur. Batang ukurnya dibuat kaku dengan permukaan rahang keras sehingga tidak mudah lentur dan tahan aus, sebab rahang ukur gerak harus menggeser batang ini.
Ada beberapa bagian dari jangka sorong yang digunakan untuk mengukur atau menentukan dimensi  dalam, luar, kedalaman dan ketinggian dari benda uji. Yaitu pisau ukuran luar. Bagian yang digunakan untuk mengukur diameter dalam dan bagian yang digunakan untuk mengukur kedalaman benda yaitu pisau ukuran kedalam
Jangka sorong mempunyai 2 bagian utama yang disebut rahang tetap dan rahang sorong (rahang geser). Skala panjang yang tertera pada rahang tetap disebut skala utama, satu bagian utama panjangnya 1 mm. Adapun rahang sorong dilengkapi 10 bagian skala yang disebut skala nonius/vernier. Panjang skala nonius adalah 0,9 mm. Ini berarti antara 2 garis yang terdekat sama dengan 0,9 mm. Dengan demikian selisih skala utama dengan skala nonius adalah 9 mm. Ini berarti 1 skala nonius (jarak antar 2 garis yang berdekatan ) sama dengan 0,9 mm. Dengan demikian ketidakpastian jangka sorong bisa didapat dengan menggunakan rumus:
∆X = ½  x nst (nilai skala terkecil)
                              ∆X = ½  x 0,1 mm = 0,05 mm


2.1.2  Bagian – bagian jangka sorong

2.1.3 Cara Menggunakan Jangka Sorong
·        Bacalah skala utama yang berimpit / skala yang terdekat tepat didepan titik nol skala nonius
·        Bacalah skala nonius yang tepat  berimpit dengan skala utama
·        Hasil pengukuran, dinyatakan dalam bentuk persamaan berikut:
H = Skala Utama + ( Skala Nonius yang berimpit x 0,05 mm )
2.1.4  Jenis – Jenis Jangka Sorong
1. Jangka Sorong Nonius (Vernier Calper)
Ada dua jenis utama dari jangka sorong nonius. Jenis pertama hanya digunakan untuk mengukur dimensi luar dan dimensi dalam, sedangkan jenis kedua selain untuk mengukur dimensi luar dan dimensi dalam, juga dapat mengukur ketinggian.
Pada jenis pertama, untuk mengukur dimensi dalam maka harga yang dibaca pada skala linear harus ditambahkan dengan tebal dari ujung kedua rahang ukur. Biasanya mistar ingsut/jangka sorong ini mempunyai kapasitas ukur sampai 150 mm. Sedangkan untuk jenis besar dapat sampai 1000 mm. Kecermatan pembacaan tergantung dari skala noniusnya dalam hal ini adalah 0,10 mm ; 0,50 mm atau 0,2 mm.
2. Jangka Sorong Jam (Dial Caliper)
Mistar ingsut/jangka sorong jam, memakai jam ukur sebagai ganti dari skala nonius. Gerak lurus sensor dirubah menjadi gerak berputar dari jam penunjuk dengan perantaan roda pada poros ukur dan batang bergigi melekat di tengah – tengah sepanjang batang mistar. Berikut merupakan tabel dari pembagian skala untuk kecermatan ingsut jam.
Tabel 2.1 Pembagian skala kecermatan ingsut jam
kecermatan
Satu putaran atau 100 bagian skala jam menggeser sensor sejauh
Angka pada jam dalam mm setiap
Pembagian skala dalam selang
0,1 mm
0.05 mm
0,02 mm
10 mm
5 mm
1 mm
10 bagian
20 bagian
5 bagian
1mm
1 mm
1 mm

3. Jangka Sorong Ketinggian (Height Gauge)
Suatu jenis jangka sorong yang berfungsi sebagai pengukur ketinggian disebut jangka sorong ketinggian. Alat ukur ini dilengkapi dengan rahang ukur yang bergerak vertikal pada batang berskala tegak lurus dengan landasannya. Permukaan rahang ukur sejajar dengan permukaan bawah dari landasannya.
Skala utama pada batang ukur ada yang dapat diatur ketinggiannya dengan menggunakan penyetel yang terletak di puncaknya. Dengan demikian pembacaan ukuran dapat diatur mulai dengan bilangan bulat.
4. Mistar Ingsut Tak Sebidang ( Off Set Yaws Vernier Caliper)
Digunakan untuk mengukur jarak antara dua permukaan yang bertingkat
5. Mistar Ingsut Jarak Senter ( off set yaws vernier caliper )
Digunakan untuk mengukur jarak antara senter lubang dan digunakan untuk mengukur jarak dari senter ke tepi.
6. Mistar Ingsut Diameter Alur Dalam ( Grouve Vernier Caliper )
Digunakan untuk mengukur alur di dalam silender, diameter minimum 30 mm.
7. Mistar Ingsut Pipa (Tube Vernier Caliper)
Digunakan untuk mengukur tebal dinding pipa dan tebal plat yang melengkung
8. Mistar Ingsut Posisi Dan Lebar Alur ( Varnier Caliver With Hooked Jaws )
Digunakan untuk mengukur lebar alur dan posisi alur terhadap tepi atau alur lain.

2.1.5 Hal – hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan Jangka Sorong
·        Rahang ukur gerak harus dapat meluncur pada batang ukur dengan baik
·        Periksa kedudukan nol serta kesejajaran dari permkaan ke 2 rahang
·        Benda ukur sedapat mungkin jangan diukur hanya dengan menggunakan ujung dari rahang ukur (harus agak kedalam)
·        Tekanan pengukuran jangan terlampau kuat, sehingga memungkinkan pembengkokan rahang ukur ataupun lidah ukur kedalaman
·        Pembacaan skala nonius mungkin dilakukan setelah mistar ingsut/jangka sorong diangkat dari objek ukur dengan hati – hati



\

2.2 MIKROMETER SEKRUP
2.2.1 Deskripsi
Mikrometer pertama kali dibuat oleh William Gascoigne di abad ke 17. Tapi digunakan untuk mengukur jarak angular bintang. Kalau mikrometer screew yang dikenal sekarang dibuat oleh Jean Laurent Palmer dari prancis. Disebut pertama kali dengan nama Palmer.
Mikrometer merupakan alat ukur linear yang mempunyai kecermatan yang lebih tinggi, yaitu sampai 0,1mm. Jadi sebetulnya tidak dapat mengukur sampai 1 mikrometer (meskipun nama alat ini mikrometer). Kadang-kadang ada juga yang dibuat dengan kecermatan 0,005mm, 0,002mm, 0,001mm bahkan 0,0005mm (dibantu dengan skala nonius). Meskipun demikian, karena keterbasan dari ketelitian pembuatan alat ulir yang merupakan komponen utama dari sistem pengubah mikrometer ini, maka derajat kepercayaan atas hasil pengukuran akan turun apabila mikrometer mempunyai kecermatan lebih kecil dari 0,005mm.
Mikrometer sekrup mempunyai 2 skala, yaitu skala utama dan skala nonius ditunjukkan oleh selubung lingkaran luar.
Secara garis besar, pembagian skala mikrometer sekrup yaitu:
1.     Skala Utama
Terdiri dari skala  : 1,2,3,4,5,6,....mm dan seterusnya
Nilai Tengah                  : 0,5;1,5;2,5;3,5....mm dan seterusnya
2.     Skala Nonius Putar
Terdiri dari skala 1-50 tap skala putar mundur satu putaran maka skla utama bertambah 0,5mm sehingga satu skala putar besarnya: 0,5/50 mm =0,01mm
Mikrometer sekrup mempunyai ketidakpastian pengukuran sebesar setengah dari nilai skala terkecil (skala nonius). Skala terkecil mikrometer sekrup adalah 0,001 mm. Dengan demikian ketidakpastian mikrometer sekrup bisa didapat dengan menggunakan rumus :
∆X = ½  x nst (nilai skala terkecil)
∆X = ½  x 0,01 = 0,005 mm

2.1.2 Bagian – bagian Mikrometer Sekrup


2.1.3 Cara Menggunakan Mikrometer sekrup
Cara menentukan hasil pengukuran dapat dilakukan dengan langkah berikut :
1.  Sekrup Penggeser diputar pelan-pelan sehingga rahang skala nonius harus tepat terimpit dengan skal utama. Bila tidak berimpit berarti terjadi kesalahan nol
2.  Putar sekrup penggeser rahang, dibuka pelan-pelan sampai ukuran bukaan cukup untuk benda yang akan diukur. Kemudian benda dipasang diantara kedua rahang dan sekrup penggeser, (putar lagi, pelan-pelan sampai benda terjepit)
3.  Pembacaan pada skala utama dan nonius dicatat
Hasil pengukuran dengan Mikrometer sekrup dapat dituliskan dengan:
H= (jumlah skala utama sampai atas skala nonius x 0,5 mm) + (jumlah skala nonius sampai garis skala nonius yang segaris dengan garis horizontal pada skala tetap x 0,001 mm)

2.1.4    Jenis - jenis Mikrometer Sekrup
Jenis – jenis mikrometer sekrup adalah diantaranya adalah sebagai  berikut :
1.     Mikrometer Luar  (outside micrometer)
Kapasitas ukur dari mikrometer yang paling kecil adalah sampai dengan 25 mm. Untuk mengukur dimensi luar yang lebih besar dari 25 mm sampai 100 mm. Yang masing – masing dengan kecermatan 25 mm. Sebagai mikrometer luar dibantu dengan penunjuk berangka (digit) yang memudahkan pembacaan hasil pengukuran.
2.     Mikrometer Luar dengan landasan dapat diganti (outside micrometer with interchangeable anvil)
Satu jenis mikrometer dibuat dengan rangka yang besar dan mempunyai kapasitas ukur yang relatif besar yaitu 0 – 100 mm ; 0 – 150 mm ; 100 – 200 mm ; dan seterusnya sampai kapasitas 900 – 1000 mm dengan kenaikan tingkat sebesar 100 atau 150 mm. Untuk semua kapasitas ukur tersebut, jarak gerak poros ukurannya tetap 25 mm. Dalam hal ini landasan tetap yang diganti. Sehingga didapat mikrometer luar dengan kapasitas ukur yang bervariasi.
3.     Mikrometer Indikator (indicator micrometer)
Adalah gabungan antara mikrometer dengan jam ukur, sebagian dari rangka mikrometer dipakai sebagai tempat mekanisme penggerak dari jarum ukur. Dalam hal ini landasan tetap mikrometer dapat bergerak dan berfungsi pula sebagai sensor dari jam ukur.
4.     Mikrometer Bangku (Bench Micrometer)
Sebagai mikrometer luar, biasanya mempunyai kecermatan yang tinggi (0,002 mm).
5.     Mikrometer UNI (UNI Micrometer)
Sebagai mikrometer luar, pengukuran tebal pipa, dan untuk pengukuran tinggi pada meja rata setelah landasan tetap dilepas.
6.     Mikrometer Dalam Silinder (Tubular Inside Micrometer)
Digunakan untuk mengukur diameter dalam. Kedua ujung dari mikrometer berfungsi sebagai sensor.
Kapasitas ukur :
50 – 75 mm sampai dengan 275 – 300 mm.
7.     Mikrometer Dalam (Inside Micrometer)
Digunakan untuk mengukur diametr dalam.
Kapasitas ukur dapat diubah dengan mengganti batang ukur ; 25 – 50 mm ; 50 – 200 mm ; 200 – 500 mm ; dan 200 – 1000 mm.
Batang pemegang berfungsi untuk mempermudah pengukuran diameter  yang dalam letaknya.
8.     Mikrometer Dalam Tiga Kaki (Holtest, Triobor)
Digunakan untuk mengukur diameter dalam dengan cermat , karena kedudukan mikrometer  selalu tetap di tengah lingkaran.
9.     Mikrometer Dalam jenis Rahang (inside Micrometer Caliper)
Digunakan untuk mengukur diameter dalam pada posisi yang sulit di mana mikrometer biasa tak bisa di pakai.
10.                        Mikrometer Luar (Outside Micrometer)
Digunakan untuk mengukur  dimensi luar, pada posisi yang sulit.
11.                        Mikrometer Kedalaman (Depth Micrometer)
Digunakan untuk mengukur kedalaman suatu lubang atau permukaan bertingkat. Batang ukur yang dapat diganti untuk mengubah kapasitas ukur.
12.                        Mikrometer Landasan V (V Anvil Micrometer)
Digunakan untuk mengukur diameter serta memeriksa kebulatannya.  Untuk mengukur diameter luar dari perkakas potong dengan 3 sampai 5 alur. Mengukur diameter kisar tap, dengan bantuan satu kawat.
13.                        Mikrometer Pipa (Tube Micrometer)
Digunakan untuk mengukur tebal dinding pipa plat lengkung dan sebagainya.
14.                        Mikrometer Pana ( Pana Mikrometer)
Poros ukur tidak berputar, hanya bergerak maju mundur. Muka ukur dapat diganti dengan berbagai bentuk, sehingga kemungkinan berbagai pengukuran, misalnya digunakan untuk mengukur:
-         Diameter kisar dari ulir
-         Roda gigi (Base tangent)
-         Tebal dinding pipa
-         Diameter alur luar
-         Tebal inti dari bor
-         Diameter kaki dari poros bintang
15.                        Mikrometer Roda Gigin (Gear Micrometer)
Muka ukur berupa bola yang dapat diganti untuk bebrapa macam diameter. Kedua bola masing-masing diletakkan diantara dua gigi. Modul gigi adalah dari 0,5 sampai 5,25 mm.
16.                        Mikrometer Piringan (Disc Micrometer)
Dengan muka ukur yang lebar kemungkinan pengukuran jarak antara beberapa gigi, bagian bersayap, dan sebagainya.
17.                        Mikrometer Alur (Groove Micrometer)
Mengukur ukuran luar dan dalam, misalnya:
-         Lebar alur
-         Posisi alur
-         Lebar tonjolan
18.                        Mikrometer Luar degan Jam ( Outside Micrometer With Head)
Landasan tetap merupakan sensor dari jam ukur. Fungsi sama seperti mikrometer indikator , yaitu untuk mengukur dimensi produk dalam jumlah besar.
19.                        Mikrometer Kepala ( Head Micrometer )
Mikrometer yang mempunyai rangka. Dipasang pada alat lain, misalnya untuk mendorong meja pada mikroskop atau profil proyektor untu suatu jarak tertentu sesuai dengan yang ditunjukkan skala mikrometer.
         

           














2.3.  SPHEROMETER
2.3.1                        Deskripsi
Spherometer merupakan alat untuk mengukur jejari kelengkungan suatu permukaan. Biasanya digunakan untuk mengukur kelengkungan lensa. Spherometer memiliki 4 kaki, dengan 3 kaki yang permanen dan 1 kaki tengah yang dapat diubah-ubah ketinggiannya. Ketelitian spherometer dapat mencapai 0,01 mm.
Alat ukur spherometer terdiri dari 3 kaki yang membentuk segitiga samasisi. Melalui pusat 3 kaki dipasang sekrup micrometer dan alat pengukurnya. Sekrup ini memiliki sebuah plat dengan skala lingkar. Jarak pengukur skala 0,5 mm, dan angka skala dara 0-500, sehingga perubahan vertical dari ujung pengukur dapat dibaca dengan ketetapan 1 mm (1 mm= 10  m). Jari-jari kelengkungan (R) dapat dihitung berdasarkan persamaan phytagoras:
                      
                               R = r + (R-h)
                                 
Disini r adalah jarak kaki kepusat dalam posisi datar dan h adalah jarak cembung (yang diukur dengan spherometer), maka:
                          
                        R= r /2h + h/2

Ukuran ketidakpastian ataupun jauh tidaknya nilai pengukuran dengan nilai benar dinyatakan oleh kesalahan. Kesalahan sebuah pengukuran bisa dinyatakan dalam kesalahan mutlak ataupun kesalahan relatif. Kesalahan mutlak dinyatakan sebagai perbedaan antara nilai pengukuran dengan nilai benar dari besaran yang diukur. Misalkan akan mengukur besaran yang mempunyai nilai benar xr. Apabila suatu saat pengukuran nya menghasilkan nilai x, kesalahan mutlak pengukuran tersebut adalah:


Kesalahan relative menggambarkan seberapa besar perbandingan antara nilai kesalahan mutlak dengan nilai benar pengukuran. Apabila kesalahan mutlak adalah x dan nilai benar pengukuran adalah xr, nilai kesalahan relative dituliskan:

Perbedaan sekrup adalah tebal plat gelas. Membaca skala pada spherometer hamper sama dengan micrometer sekrup.
Spherometer merupakan suatu instrument untuk pengukuran tepat dari jari- jari dari sebuah bola atau ketebalan dari plat tipis.Bentuk biasa terdiri dari denda sekrup yang bergerak dalam kacang dilakukan ditengah meja berkaki tiga kecil, kaki membentuk simpul dari sebuah sama sisi segitiga.

Ujung bawah sekrup dan orang kaki table halus meruncingdan berakhir dibelahan otak sehingga setiap bersandar pada suatu titik. Jika sekrup memiliki dua putaran dari benang ke mm kepala biasanya dibagi menjadi damenggunakan sebuah sorong.Sebuah lensa bagaimanapun mungkin menunjukan jumlah seluruh putaran sekrup dan berfungsi sebagai indeks untuk membaca divisi dikepala… Dalam rangka untuk mengukur ketebalan piring instrument yang ditempatkan pada permukaan pesawat sempurna tingkat dan sekrup berbalik sampai titik hanya menyentuh, instan tepat berhasil oleh banyak peningkatan… Kepala dan skala dibagi dibagi dibaca, sekrup dinaikkan, pelat tipis menyelinap dibawahnya, dan proses ini diulang.
Perbedaan antara kedua bacaan memberikan ketebalan yang diperlukan.. kontak tuas, tingkat halus atau pengaturan menghubungi listrik mungkin melekat spherometer dalam rangka untuk menunjukan saat menyentuh lebih tepat daripada yang dimungkinkan oleh rasa sentuhan. Untuk mrngukur jari-jari bola misalnya kelengkungan lensa spherometer tersebut diratakan dan membaca, kemudian ditempatkan pada bola, disesuaikan sampai  4 poin memberikan tekanan yang sama , dan membaca lagi… perbedaan ini memberikan ketebalan yang sebagian lingkup dipotong oleh pesawat melewati tiga kaki… ini disebut h jarak, dan jarak antara kaki, radius (R) diberikan oleh rumus:

Karena spherometer pada dasarnya jenis mikrometer, dapat digunakan untuk tujuan selain mengukur kelengkungan dari permukaan bola. Sebagai contoh, dapat digunakan untuk mengukur ketebalan sebuah plat tipis. Untuk melakukannya, instrumen yang ditempatkan pada permukaan pesawat sempurna tingkat dan sekrup berubah sampai titik hanya menyentuh, instan tepat ketika ia melakukannya didefinisikan oleh penurunan tiba-tiba  perlawanan berhasil oleh banyak peningkatan. Kepala dan skala dibagi dibaca, sekrup dinaikkan, plat tipis menyelinap dibawahnya, dan proses ini diulang. Perbedaan antara kedua bacaan memberikan ketebalan yang diperlukan. Demikian pula,instrumen tersebut dapat mengukur depresi pada plat dinyatakan datar. Metode ini akan menjadi seperti untuk mengukur ketebalan piring, kecuali bahwa bagian micrometer ditempatkan diatas depresi dan pengukuran diambil dibawah permukaan, bukan diatas.
Speherometer adalah instrumen presisi untuk mengukur sangat kecil panjang. Namanya mencerminkan cara digunakan untuk mengukur jari- jari kelengkungan permukaan bola.


2.3.2                       Bagian-Bagian Spherometer
1.     Sekrup yang bergerak atau berputar ditengah
2.     Tiga kaki yang ujungnya membentuk segitiga sama sisi
3.     Keping berbentuk lingkaran yang melekat pada sekrup
4.     Keping yang ada skalanya (besarnya 50 skala)
5.     Batang skala yang terletak sejajar sekrup
Pemutar sekrup


Secara umum spherometer terdiri dari;

a.     Sebuah lingkaran dasar tiga kaki luar, cincin atau setara. Bola memiliki radius lingkaran dasar. Perhatikan bahwa luar kaki dari spherometer ditampilkan dapat di pindahkan kebagian dalam set lubang untuk mengakomodasi lensa kecil. Hal ini juga berlaku dari spherometer tua dilaboratorium.
b.     Sebuah kaki pusat, yang dapat dinaikkan atau menurunkan.
c.      Sebuah perangkat membaca untuk mengukur jarak kaki sentral pindah      pada spherometer baru, skala vertical ditandai dalam satuan 0,5 mm. salah lengkap pergantian tombol juga sesuai dengan 0,5 mm dan setiap wisuda kecil ini merupakan 0,005 mm. Kecil pada tua spherometer adalah 0,001 mm.
Dalam mengukur panjang suatu benda ,selain memperhatikan ketelitian alat ukur juga memperhatikan jenis dan macam benda yang akan diukur alatnya seperti spherometer.
Spherometer adalah alat ukur untuk mengukur kelengkungan suatu optic sketis (lengkung),baik itu cermin speris ataupun lensa,selain untuk mengukur kelengkungan suatu objek speris,spherometer juga digunakan untuk mengukur ketebalan kertas atau kaca spherometer.
Spherometer memiliki 4 buah kaki dengan kaki permanen dan satu lagi kaki tengah yang dapat diubah-ubah.
Ketinggian nya ketiga kaki permanen berjarak sama satu dengan yang lain nya ,membentuk segi tiga sama kaki.
     R = (1/2) h + S2 / ( 6H )
Keterangan :
R = jari-jari kelengkungan benda yang diukur
H = Jarak pergeseran kaki tengah dari bidang yang sama dengan kaki yang lain nya
S = Jarak kaki-kaki pinggir yang tidak dapat bergerak
2.3.3                        Cara Menggunakan Spherometer
1.     Spherometer diletakkan pada dasar yang rata.
2.     Sekrup diputar hingga ujung sekrup menyinggung bagian atas plat gelas.
3.     Baca skala pada spherometer hampir sama dengan micrometer sekrup.

2.3.5 Cara Mengkalibrasi Spherometer
1.     Letakkan spherometer pada bagian yang datar dank eras
2.     Kemudian ditekan kuat-kuat kaki spherometer
3.     Lalu putar sampai jarak penunjuk hamper akan bergerak
4.     Saat akan bergerak gunakan bagian yang paling atas untuk memutar sampai bunyi “klik”.

















2.4 KESETIMBANGAN
2.4.1 Deskripsi
Kesetimbangan dalam fisika adalah keadaan tanpa gerak , atau keadaan bergerak lurus beraturan. Menurut hukum I Newton benda yang berada dalam keadaan seperti itu tidak mengalami pengaruh gaya atau resultan gaya-gaya yang bekerja pada benda tersebut sama dengan  nol.
Banyank  benda yang dibuat sedemikian sehingga ada dalam keadaan seimbang. Semua jenis bangunan harus ada dalam keadaan seimbang, meja, kursi, dan sebagainya  harus mampu berdiri seimbang tanpa bergulir atau meluncur di atas suatu permukaan. Benda-benda seimbang yang disebut diatas ini kita anggap benda tegar. Masalah kesetimbagan menyangkut benda tanpa gerak
Kesetimbangan merupakan salah satu akibat dari bekerjanya suatu gaya yang berubahnya dimensi atau bentuk benda yang  berubah keadaan benda tersebut. Gerak suatu benda dapat dianggap merupakan gerak keeluruhan, yaitu gerak translasinya serta gerak rotasi. Pada umumnya satu gaya tunggal yang bekerja pada sebuah benda mengakibatkan perubahan baik pada gerak translasinya maupun pada gerak rotasinya. Tetapi bila gaya yang bekerja itu beberapa gaya serentak mungkin akibatnya saling menghasilkan perubahan pada gerak translasinya maupun gerak rotasi, maka dikatakan bahwa benda itu dalam kesetimbangan ini berarti bahwa
1. benda itu sebagai satu keseluruhan tetap diam atau bergerak menurut garis lurus dengan kecepatan konstan.
2. benda itu tidak berotasi sama sekali atau kecepatannya konstan.

2.4.2    Syarat Untuk Kesetimbangan

Sebuah partikel berada dalam kesetimbangan maksudnya, partikel yang mengalami percepatan dalam pengertian kerangka acuan inersia jika jumlah vector dari gaya-gaya yang bekerja padanya adalah nol, ∑F= 0. Pernyataan yang sama untuk benda diperluas adalah bahwa pusat massa dari benda memiliki percepatan nol jika penjumlahan vector dari seluruh gaya luar yang bekerja pada benda tersebut adalah nol. Hal ini sering disebut sebagai syarat pertama untuk kesetimbangan. Dalam bentuk komponen-komponennya,

                               ∑Fx= 0, ∑Fy = 0 , ∑Fz = 0

Dimana penjumlahan hanya melibatkan gaya luar.
Syarat kedua agar benda diperluas setimbang adalah bahwa benda harus tidak mempunyai kecenderungan untuk berputar (berotasi). Syarat ini didasari oleh dinamika gerak rotasi yang sama persis dengan syarat pertama yang didasari oleh hokum pertama Newton. Sebuah benda tegar yang dalam kerangka inersia tidak berputar pada sustu titik, mempunyai momentum sudut nol, L = 0. Jika pada titik tersebut benda tidak berputar, laju perubahan momentum sudutnya d L/dt juga sama dengan nol. Dari pembahasan ini berarti bahwa jumlah torsi ∑t akibat seluruh gaya luar yang bekerja pada benda harus sama dengan nol. Benda tegar dalam kesetimbangan tidak memiliki kecenderungan untuk berputar disetiap titik sehingga penjumlahan dari torsi luar harus sama dengan nol setiap titik. Ini adalah syarat kedua untuk kesetimbangan
   t = 0 untuk setiap titik (syarat kedua kesetimbangan)


   2.4.3 Macam – macam Kesetimbangan
      1. Kesetimbangan Stabil (mantap)
 Kesetimbangan stabil terjadi jika sistem diubah sedikit dari kedudukan seimbang semula, kemudian ganguan dilepaskan maka sistem akan kembali ke
  kedudukan semula. jika titik berat benda berada di bawah titik tumpuh, maka benda selalu berada dalam keseimbangan stabil (benda masih bisa bergerak kembali ke posisi semula setelah puas jalan-jalan).
Ciri dari kestimbangan ini adalah jika saat diganggu titik beratnya naik. Contohnya: kelereng di dalam mangkok dan bandul metalik.
2. Kesetimabangan Labil (goyah)
Kesetimbangan labil terjadi jika sistem diubah sendiri dari kedudukan semula, kemudian ganguan dilepaskan, maka sistem membentuk kesetimbangan baru . keseimbangan benda sangat bergantung pada bentuk/ukuran benda. Benda yang kurus dan langsing berada dalam keseimbangan tidak stabil
Ciri dari kesetimbangan ini adalah jika sistem diganggu sedikit titik beratnya turun. Contohnya: kelereng di atas bola dan balok dalam keadaan berdiri.

       3. Kesetimbangan Indiferent (netral)
Kesetimbangan netral terjadi jika sistem diubah sedikit dari kedudukan semula yang kemudian gangguan dilepaskan, maka sistem tidak membentuk keseimbangan baru, mungkin hanya berpindah tempat. jika titik berat benda berada di atas titik tumpuh, keseimbangan bersifat relatif. Benda bisa berada dalam keseimbangan stabil, benda juga bisa berada dalam keseimbangan labil/tidak stabil.
Ciri dari kesetimabangan ini jika sistem diubah sedikit maka titik beratnya tetap. Contohnya : kelereng di atas lantai dan sebuah buku dilubangi tepat di pusat diagonal, yang kemudian dimasukan pada sebuah paku yang ada di tembok.
2.4.4 Kesetimbangan Pada Gaya Partikel
Ditinjau sebuah benda bermassa m yang dikenai gaya sebesar F. Dengan menganggap gaya-gaya luar yang lain tidak ada, maka benda tersebut akan bergerak dengan percepatan yang tertentu. Dari hukum II Newton akan di dapatkan hukum kesetimbangan gaya.
                                     F = m.a
Formula di atas, m.a dapat diterjemahkan sebagai gaya reaksi dari gaya-gaya yang mempengaruhi. Formula di atas dapat juga dituliskan sebagai:
                                               F – m.a = 0
Dengan kata lain jumlah gaya-gaya yang bekerja pada suatu benda adalah nol.
2.4.5 Kesetimbangan Benda
1.               Momen Gaya
Momen gaya adalah ukuran efek berputar yang diakibatkan oleh suatu gaya disekitar suatu sumbu. Besar momen ialah hasil kali gaya dengan jarak tegak lurus dari sumbu kegaris kerja gaya.

a.                Kopel atau Pasangan Gaya
Kopel atau pasangan gaya adalah dua gaya sebidang, sama besar, sejajar, dan berlawanan arah. Menimbulkan momen gaya sebesar:
2.4.6    Sistem Keseimbangan
Dalam menyelesaikan suatu sistem keseimbangan di bawah Spengaruh beberapa gaya, ada beberapa prosedur yang perlu diikuti:
a.   Tentukan objek/ benda yang menjadi pusat perhatian dari sitem keseimbangan.
b.  Gambar gaya-gaya eksternal yang bekerja pada obyek tersebut.
c.   Pilih koordinat yang sesuai, gambar komponen-komponen gaya dalam koordinat yang telah dipilih tersebut.
d.  Terapkan sistem keseimbangan untuk setiap komponen gaya.
e.   Pilih titik tertentu untuk menghitung torsi dari gaya-gaya yang ada terhadap titik tersebut. Pemilihan titik tersebut sembarang, tetapi harus memudahkan penyelesaian.
f.    Dari persamaan yang dibentuk, dapat diselesaikan variabel yang ditanyakan.
























2.5 BANDUL SEDERHANA
  2.5.1 Deskripsi
Bandul adalah benda yang terikat pada sebuah tali dan dapat berayun secara bebas dan periodik yang menjadi dasar kerja dari sebuah jam dinding kuno yang mempunyai ayunan. Dalam bidang fisika, prinsip ini pertama kali ditemukan pada tahun 1602 oleh Galileo Galilei, bahwa perioda (lama gerak osilasi satu ayunan, T) dipengaruhi oleh panjang tali dan percepatan gravitasi.
gerak osilasi (getaran) yang populer adalah gerak osilasi pendulum (bandul). Pendulum sederhana terdiri dari seutas tali ringan dan sebuah bola kecil (bola pendulum) bermassa m yang digantungkan pada ujung tali, gaya gesekan udara kita abaikan dan massa tali sangat kecil sehingga dapat diabaikan relatif terhadap bola. Dengan bandulpun kita dapat mengeahui grafitasi di tempat bandul tersebut diuji.
Bandul sederhana adalah sebuah benda kecil, biasanya benda berupa bola pejal, digantungkan pada seutas tali yang massanya dapat diabaikan dibandingkan dengan massa bola dan panjang bandul sangat besar .dibandingkan dengan jari-jari bola. Ujung lain tali digantungkan pada suatu penggantung yang tetap, jika bandul diberi simpangan kecil. dan kemudian dilepaskan, bandul akan berosilasi (bergetar) di antara dua titik, misalnya titik A dan B, dengan periode T yang tetap. Seperti sudah dipelajari pada percobaan mengenai, getaran, satu getaran (1 osilasi) didefinisikan sebagai gerak bola dari A ke B dan kembali ke A, atau dari B ke A dan kembali ke B, atau gerak dari titik a ke A ke B dan kembali ke titik O.
Ada beberapa parameter (atau variabel) pada bandul, yaitu periodenya (T), ), massa bandul (m), dan simpangan sudut (O) panjangnya ( ).

2.5.2 Gerak Harmonik Sederhana
Gerak Harmonik Sederhana (GHS) adalah gerak periodik dengan lintasan yang ditempuh selalu sama (tetap). Gerak Harmonik Sederhana mempunyai persamaan gerak dalam bentuk sinusoidal dan digunakan untuk menganalisis suatu gerak periodik tertentu. Gerak periodik adalah gerak berulang atau berosilasi melalui titik setimbang dalam interval waktu tetap. Gerak Harmonik Sederhana dapat dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu :
 Gerak Harmonik
Ø Sederhana (GHS) Linier, misalnya penghisap dalam silinder gas, gerak osilasi air raksa / air dalam pipa U, gerak horizontal / vertikal dari pegas, dan sebagainya.
 Gerak Harmonik Sederhana (GHS) Angular, misalnya gerak bandul/ bandul fisis, osilasi ayunan torsi, dan sebagainya.
Ø

Beberapa Contoh Gerak Harmonik:
Ø Gerak harmonik pada bandul: Sebuah bandul adalah massa (m) yang digantungkan pada salah satu ujung tali dengan panjang l dan membuat simpangan dengan sudut kecil. Gaya yang menyebabkan bandul ke posisi kesetimbangan dinamakan gaya pemulih yaitu dan panjang busur adalah Kesetimbangan gayanya. Bila amplitudo getaran tidak kecil namun tidak harmonik sederhana sehingga periode mengalami ketergantungan pada amplitudo dan dinyatakan dalam amplitudo sudut
 

Gerak harmonik pada bandul
Ketika beban digantungkan pada ayunan dan tidak diberikan gaya, maka benda akan dian di titik keseimbangan B. Jika beban ditarik ke titik A dan dilepaskan, maka beban akan bergerak ke B, C, lalu kembali lagi ke A. Gerakan beban akan terjadi berulang secara periodik, dengan kata lain beban pada ayunan di atas melakukan gerak harmonik sederhana.
Gerak harmonik padaØ pegas: Sistem pegas adalah sebuah pegas dengan konstanta pegas (k) dan diberi massa pada ujungnya dan diberi simpangan sehingga membentuk gerak harmonik. Gaya yang berpengaruh pada sistem pegas adalah gaya Hooke.
Gerak vertikal pada pegas
Semua pegas memiliki panjang alami sebagaimana tampak pada gambar. Ketika sebuah benda dihubungkan ke ujung sebuah pegas, maka pegas akan meregang (bertambah panjang) sejauh y. Pegas akan mencapai titik kesetimbangan jika tidak diberikan gaya luar (ditarik atau digoyang).
 Gerak Harmonik Teredam
à
Secara umum gerak osilasi sebenarnya teredam. Energi mekanik terdisipasi (berkurang) karena adanya gaya gesek. Maka jika dibiarkan, osilasi akan berhenti, yang artinya GHS-nya teredam. Gaya gesekan biasanya dinyatakan sebagai arah berlawanan dan b adalah konstanta menyatakan besarnya redaman. dimana = amplitudo dan = frekuensi angular pada GHS teredam.
Syarat sebuah benda melakukan Gerak Harmonik Sederhana adalah apabila gaya pemulih sebanding dengan simpangannya… Apabila gaya pemulih sebanding dengan simpangan x atau sudutte ta maka pendulum melakukan Gerak Harmonik Sederhana.
Gaya pemulih yang bekerja pada pendulum adalah -mg sin teta. Secara matematis ditulis :
Tanda negatif menunjukkan bahwa gaya mempunyai arah yang berlawanan dengan simpangan sudutte ta. Berdasarkan persamaan ini, tampak bahwa gaya pemulih sebanding dengan sin teta, bukan dengante ta. Karena gaya pemulih F berbanding lurus dengan sin teta bukan dengante ta, maka gerakan tersebut
2.5.3 Besaran Fisika pada Gerak Harmonik Sederhana Pada Bandul
Benda yang bergerak harmonis sederhana pada bandul sederhana memiliki periode alias waktu yang dibutuhkan benda untuk melakukan satu getaran secara lengkap. Benda melakukan getaran secara lengkap apabila benda mulai bergerak dari titik di mana benda tersebut dilepaskan dan kembali lagi ke titik tersebut.
Pada contoh di atas, benda mulai bergerak dari titik A lalu ke titik B, titik C dan kembali lagi ke B dan A. Urutannya adalah A-B-C-B-A. Seandainya benda dilepaskan dari titik C maka urutan gerakannya adalah C-B-A-B-C.
Jadi periode ayunan (T) adalah waktu yang diperlukan benda untuk melakukan satu getaran (disebut satu getaran jika benda bergerak dari titik di mana benda tersebut mulai bergerak dan kembali lagi ke titik tersebut ). Satuan periode adalah sekon atau detik.
a.   Frekuensi (f)
Frekuensi adalah banyaknya getaran yang dilakukan oleh benda selama satu detik, yang dimaksudkan dengan getaran di sini adalah getaran lengkap. Satuan frekuensi adalah hertz.
b.  Hubungan antara Periode dan Frekuensi
Frekuensi adalah banyaknya getaran yang terjadi selama satu detik. Dengan demikian selang waktu yang dibutuhkan untuk melakukan satu getaran adalah:


Selang waktu yang dibutuhkan untuk melakukan satu getaran adalah periode. Dengan demikian, secara matematis hubungan antara periode dan frekuensi adalah sebagai berikut[3] :




c.   Amplitudo
Pada ayunan sederhana, selain periode dan frekuensi, terdapat juga amplitudo. Amplitudo adalah perpindahan maksimum dari titik kesetimbangan.

2.5.4 Aplikasi Gerak Harmonik Sederhana
Shockabsorber pada Mobil
Peredam kejut (shockabsorber) pada mobil memiliki komponen pada bagian atasnya terhubung dengan piston dan dipasangkan dengan rangka kendaraan. Bagian bawahnya, terpasang dengan silinder bagian bawah yang dipasangkan dengan as roda. Fluida kental menyebabkan gaya redaman yang bergantung pada kecepatan relatif dari kedua ujung unit tersebut. Hal ini membantu untuk mengendalikan guncangan pada roda
Jam Mekanik
Roda keseimbangan dari suatu jam mekanik memiliki komponen pegas. Pegas akan memberikan suatu torsi pemulih yang sebanding dengan perpindahan sudut dan posisi kesetimbangan. Gerak ini dinamakan Gerak Harmonik Sederhana sudut (angular).



Garpu Tala
Garpu tala dengan ukuran yang berbeda menghasilkan bunyi dengan pola titinada yang berbeda. Makin kecil massa m pada gigi garpu tala, makin tinggi frekuensi osilasi dan makin tinggi pola titinada dari bunyi yang dihasilkan garpu tala.










2.6. GESEKAN
2.6.1 Dsekripsi
Gesekan biasanya terjadi di antara dua permukaan benda yang bersentuhan, baik terhadap udara, air atau benda padat. Ketika sebuah benda bergerak di udara, permukaan benda tersebut akan bersentuhan dengan udara sehingga terjadi gesekan antara benda tersebut dengan udara. Demikian juga ketika bergerak di dalam air. Gaya gesekan juga selalu terjadi antara permukaan benda padat yang bersentuhan, sekalipun benda tersebut sangat licin. Permukaan benda yang sangat licin pun sebenarnya sangat kasar dalam skala mikroskopis. Ketika kita mencoba menggerakan sebuah benda, tonjolan-tonjolan miskroskopis ini mengganggu gerak tersebut. Sebagai tambahan, pada tingkat atom (ingat bahwa semua materi tersusun dari atom-atom), sebuah tonjolan pada permukaan menyebabkan atom-atom sangat dekat dengan permukaan lainnya, sehingga gaya-gaya listrik di antara atom dapat membentuk ikatan kimia, sebagai penyatu kecil di antara dua permukaan benda yang bergerak. Ketika sebuah benda bergerak, misalnya ketika kita mendorong sebuah buku pada permukaan meja, gerakan buku tersebut mengalami hambatan dan akhirnya berhenti, karena terjadi gesekan antara permukaan bawah buku dengan permukaan meja serta gesekan antara permukaan buku dengan udara, di mana dalam skala miskropis, hal ini terjadi akibat pembentukan dan pelepasan ikatan tersebut.
Jika permukaan suatu benda bergeseran dengan permukaan benda lain, masing-masing benda tersebut melakukan gaya gesekan antara satu dengan yang lain. Gaya gesekan pada benda yang bergerak selalu berlawanan arah dengan arah gerakan benda tersebut. Selain menghambat gerak benda, gesekan dapat menimbulkan aus dan kerusakan. Hal ini dapat kita amati pada mesin kendaraan. Misalnya ketika kita memberikan minyak pelumas pada mesin sepeda motor, sebenarnya kita ingin mengurangi gaya gesekan yang terjadi di dalam mesin. Jika tidak diberi minyak pelumas maka mesin kendaraan kita cepat rusak. Contoh ini merupakan salah satu kerugian yang disebabkan oleh gaya gesek.
Kita dapat berjalan karena terdapat gaya gesek antara permukaan sandal atau sepatu dengan permukaan tanah. Jika anda tidak biasa menggunakan alas kaki gaya gesek tersebut bekerja antara permukaan bawah kaki dengan permukaan tanah atau lantai. Alas sepatu atau sandal biasanya kasar / bergerigi alias tidak licin. Para pembuat sepatu dan sandal membuatnya demikian karena mereka sudah mengetahui konsep gaya gesekan. Demikian juga alas sepatu bola yang dipakai oleh pemain sepak bola, yang terdiri dari tonjolan-tonjolan kecil. Apabila alas sepatu atau sandal sangat licin, maka anda akan terpeleset ketika berjalan di atas lantai yang licin atau gaya gesek yang bekerja sangat kecil sehingga akan mempersulit gerakan anda. Ini merupakan contoh gaya gesek yang menguntungkan.
Ketika sebuah benda berguling di atas suatu permukaan (misalnya roda kendaraan yang berputar atau bola yang berguling di tanah), gaya gesekan tetap ada walaupun lebih kecil dibandingkan dengan ketika benda tersebut meluncur di atas permukaan benda lain. Gaya gesekan yang bekerja pada benda yang berguling di atas permukaan benda lainnya dikenal dengan gaya gesekan rotasi. Sedangkan gaya gesekan yang bekerja pada permukaan benda yang meluncur di atas permukaan benda lain (misalnya buku yang didorong di atas permukaan meja) disebut sebagai gaya gesekan translasi. Pada kesempatan ini kita hanya membahas gaya gesekan translasi, yaitu gaya gesekan yang bekerja pada benda padat yang meluncur di atas benda padat lainnya.
Pada tahun 1748 Leonhard Euler membedakan gaya gesekan menjadi dua macam yaitu gaya gesekan statis dan gaya gesekan kinetis.
- jika F luar  <   Fs  (max)  maka benda diam
- jika F luar   =  Fs  (max) maka benda tepat akan bergerak
- jika F luar   >  Fs  (max) maka benda telah bergerak
2.6.2  Jenis Gaya Gesek
  Gaya gesek statis
Gaya gesek statis adalah gesekan antara dua benda padat yang tidak bergerak relatif satu sama lainnya. Seperti contoh, gesekan statis dapat mencegah benda meluncur ke bawah pada bidang miring. Koefisien gesek statis umumnya dinotasikan dengan μs, dan pada umumnya lebih besar dari koefisien gesek kinetis.
Gaya gesek statis dihasilkan dari sebuah gaya yang diaplikasikan tepat sebelum benda tersebut bergerak. Gaya gesekan maksimum antara dua permukaan sebelum gerakan terjadi adalah hasil dari koefisien gesek statis dikalikan dengan gaya normal f = μs Fn. Ketika tidak ada gerakan yang terjadi, gaya gesek dapat memiliki nilai dari nol hingga gaya gesek maksimum.
Setiap gaya yang lebih kecil dari gaya gesek maksimum yang berusaha untuk menggerakkan salah satu benda akan dilawan oleh gaya gesekan yang  setara dengan besar gaya tersebut namun berlawanan arah. Setiap gaya yang lebih besar dari gaya gesek maksimum akan menyebabkan gerakan terjadi. Setelah gerakan terjadi, gaya gesekan statis tidak lagi dapat digunakan untuk menggambarkan kinetika sehingga digunakan gaya gesek kinetis.
Dalam situasi tertentu, gaya gesekan statis actual dapat mempunyai besar berapa pun antara nol (bila tidak terdapat gaya lain yang sejajar dengan permukaan) dan nilai maksimumnya yang diberikan oleh μsή. Dalam lambing
ƒs     μ s ή  (besar gaya gesekan statis)


 Gaya gesek kinetis
Gaya gesek kinetis (atau dinamis) terjadi ketika dua benda bergerak relatif satu sama lainnya dan saling bergesekan. Koefisien gesek kinetis umumnya dinotasikan dengan μk dan pada umumnya selalu lebih kecil dari gaya gesek statis untuk material yang sama.
Pernahkah anda jatuh terpeleset karena menginjak sesuatu yang licin ? jika belum, silahkan mencoba kita bisa terpeleset ketika menginjakkan kaki pada sesuatu yang licin karena tidak ada gaya gesek yang bekerja. Tanpa gaya gesek, kita tidak akan bisa berjalan, roda sepeda motor atau mobil juga tidak akan bisa berputar, demikian juga pesawat terbang akan selalu tergelincir. Masa sich ? berita di televisi dan surat kabar yang mengatakan bahwa pesawat terbang tergelincir merupakan salah satu bukti, demikian juga ketika anda terpeleset dan jatuh sambil tertawa. Kehidupan kita sehari-hari tidak terlepas dari bantuan gaya gesekan, walaupun terkadang tidak kita sadari.
Dalam banyak kasus, besar gaya gesekan kinetis ƒk diperoleh secara eksperimen sebagai kurang lebih sebanding dengan besar ή dari gaya normalnya. Dalam kasus-kasus seperti ini dapat ditulis persamaan sebagai berikut
    ƒk   =    μ k   ή  (besar gaya gesekan kinetis)




2.6.3 KOEFISIEN GESEKAN
No
Bahan
Statik μs
Kinetik  μk
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
Baja pada baja
Aluminium pada baja
Tembaga pada baja
Kuningan pada baja
Seng pada besi cor
Tembaga pada besi cor
Kaca pada kaca
Tembaga pada kaca
Teflon pada kaca
Kayu pada kulit binatang
Tulang pada tulang
0,74
0,61
0,53
0,51
0,85
1,05
0,94
0,68
0,04
0.5
-
0,57
0,47
0,36
0,44
0,21
0,29
0,4
0,53
0,04
0,09
0,03

















BAB  III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

·        Ketelitian jangka sorong adalah 0,05 mm
·        Ketelitian micrometer sekrup adalah 0,01 mm
·        Ketelitian spherometer adalah 0,01 mm
·        Untuk mengukur jari-jari kelengkungan lensa dapat digunakan rumus :
                              R- (1/2)h + s²/ 6h
·        Kesetimbangan adalah keadaan tak bergerak, atau keadaan bergerak lurus beraturan
·        Kesetimbangan mempunyai syarat :
∑F=0 dan T1=0
·        Bandul sederhana merupakan benda ideal yang terdiri-dari sebuah titik massa, yang digantungkan pada tali ringan yang tidak dapat mulus.
·        Gaya gesekan terbagi dua yaitu gaya gesekan statis dan gaya gesekan kinetis
·        Percepatan gerak benda pada bidang miring
                                  a = g (sinθ – μk cos θ)



3.2KRITIK DAN  SARAN
Dari makalah yang telah dibuat, pasti terdapat kesalahan dalam penulisan isi dari makalah ini.maka dari itu  kami mengharapkan  kritik dan saran  yang membangun dari pembaca agar makalah – makalah yang akan dibuat berikutnya lebih  sempurna.Atas kritik dan saran yang diberikan kami ucapkan terima kasih. 



















DAFTAR  PUSTAKA
Foster, Bob. 2004. Fisika Terpadu. Bandung: Erlangga
Hidayat, S. Lilik. 1990. Kamus Fisika. Klaten: Intan Pariwara
Kamajaya, K. 2003. Fisika untuk SMU Kelas I. Jakarta: Ganeca
Kanginan, Marten. 2004. Fisika Untuk SMA Kelas X.  Jakarta: Erlangga Rochim, Taufik dan Soetarto. 1980. Teknik Pengukuran (  Metrologi Industri ). Semarang: PT. Cipta Sari
Ruwanto, Bambang. 2003. Asas-asas Fisika. Jakarta: Yudistira
Tim Fisika Dasar I. 2006. Penuntun Pratikum Fisika Dasar I. Jambi: UnIversitas Jambi
Young, D Hugh dan Roger A. Freedman. 2002.Fisika Universitas. Jakarta : Erlangga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar